HIJRAH Episode 2 2:141
Dan disinilah aku. Berada diantara orang alim. Orang orang yang, dalam artian tertentu, berada jauh diatasku, dan diarti yang lain, aku menunduk melihat mereka. Dan bukan tempat mereka untuk berada disekitarku
Atau
Bukan tempatku untuk berada diantara mereka.
Pertemuan pertama kami membuatku diam diam tahu siapa nama mbak yang kita temui didepan sekretariat lalu. Bahkan ia bukan seorang ‘Mbak’. Ia seangkatan denganku dan baru tahun ini bergabung. Namanya Alfathunissa. Oke cukup.. bahkan akhwat ayu tidak akan menahanku disini satu menit lebih lama dari seharusnya.
Dari pertemuan ini aku juga tahu orang orang yang satu departemen denganku. Aku tidak ingat yang perempuan, tapi yang laki laki ada Rofi dan Amri. Kami diketuai oleh seorang perempuan yang lumayan cantik, menurutku, mirip penyanyi muda berjilbab di salah satu ajang talent show, namanya Erina. Mungkin perempuan ini fotografer dan desainer terbaik di organisasi ini. She’s in charge.
Budaya yang baru sekali aku jamah langsung menusuk ujung jariku begitu aku meraihnya. Sebelum rapat, aku tanpa sengaja duduk disamping seorang perempuan yang aku lupa namanya – tak sengaja duduk tidak semustahil kedengaranya, perempuan itu berteriak dan menjerit keras. Aku sontak panik. Mbak Erina setengah berdiri menatapku, ujung jarinya kearahku dan menyuruhku bergeser, tidak, menyuruhku melompat jauh dari perempuan itu. Aku bisa merasakan kumpulan lain menatap kami bertanya tanya. Aku melihat Abu di salah satu kerumunan itu. Meminta maklum untukku kepada senior senior disekitarnya.
Tak ada lagi yang bicara, ketua juga sepertinya kehabisan cerita untuk dibagi. Aku pura pura berkeliling mengunjungi Abu. Naif hendak mengajaknya kabur.
***
Setelah dua sesi kuliah, langkahku gontai teratur ke kantin kampus. Hanya aku mahasiswa baru yang berjalan sendirian di lingkungan kampus. Sebagian besar masih bergerombol, tidak kesulitan menjadi makhluk sosial, seolah mereka benar benar terlahir sebagai itu. Dan aku sebagai makhluk lain. Anti sosial yang elegan. Dan disana ia muncul. Setelah mencampakkanku kemarin dan aku harus pergi sendiri dari kerumunan itu, ia masih muncul bahkan menyeru namaku. Dia menungguku sedari kapan.
Menghela nafas, menatapku, Abu. Wajahnya tampak lega sesaat, karena menunggu lama, dan kesal karena perbuatanku kemarin. “Ayolah, Zain. Kita kembali lagi kesana!” katanya menepuk bahuku. Aku tau persis kemana maksudnya. Dan aku tau persis tak aka nada gunanya aku menolak. Ia sudah menyeretku, setelah iming iming makan siang dan ancaman yang lebih dominan. Membatalkan rencana makan siang damaiku. Melangkah lebih jauh ke sekretariat. Menyeret Zain ke jalan yang benar –katanya
***
Sempit. Kesan pertama siapapun yang mengunjungi tempat ini. Ukurannya kira kira 4x5 meter yang dibagi dua dengan sekat kayu secara adil proporsional sehingga tempat duduk sangat terbatas. Disampingku ada Mas Imam yang menyelesaikan satu juz untuk hari ini, katanya. Aku tidak tahu siapa yang ada di sisi perempuan karena sekat dan korden diantara kami. Yang aku tau pasti adalah Abu yang semena-mena meninggalkanku disini. Urusan lain katanya, huh. Orang alim bisa licik. Dengan absennya Abu aku kehilangan hasrat untuk tetap tinggal. Hampir berdiri melangkah pergi. Hampir.
Semburat perak memancar dari rak buku didepanku. Dipantulkan oleh jam tangan mahasiswa yang melintas pintu sekre dari cahaya matahari yang menyelinap dari sela candela. Sinar perak itu memantul terakhir kearah mataku. Dan pantulannya adalah sebuah Al Quran yang tergeletak disana. Seolah sengaja, teratur, terintegrasi, buku itu meminta perhatianku. Bahkan, tanganku bergerak sendiri ingin tahu apa yang hendak ia sampaikan padaku. Berita apa? Rahasia apa? Kenapa diam diam? Apa sengaja? Siapa?
Ada rasa menyesal ketika jemariku membukanya. Karena aku baru ingat aku lupa bagaimana cara membaca huruf huruf ini. Ibuku pernah mengajariku tapi itu bertahun tahun lalu bahkan mungkin di tahun yang sama aku terakhir kali membaca firman-Nya. Dan sekarang,
apabila aku mengembalikan Al Quran ini ketempatnya, pasti orang orang akan melihat dan mencibirku. Mengatakan apapun itu. Tak ada pilihan. Aku mengambilnya, lalu duduk manis disamping Mas Imam. Teratur merapikan karpet alas dudukku.
Mas Imam sibuk, aku keliru. Ia sama sekali tidak menggubrisku yang hampir mengaji atau menyadari polah ku yang ingin menaruh benda suci ini. Sesaat ia berkata “Kalau mau baca wudhu dulu saja, Zain”. Ia menjeda pengajiannya. Memberiku nasehat. Mengira aku akan mengaji disampingnya. Tidak, aku tidak bisa. Tidak sekarang. Tidak disini, didepannya.
Lengang, Mas Imam tidak melanjutkan ayat ayat suci Tuhan. “Mas Imam sudah selesai?” tanyaku menoleh kepadanya. Ia balas menoleh “Sudah” sambil tersenyum. “satu juz? Serius?” tanyaku lagi, bagi orang seperti jelas itu mengherankan. Satu juz itu bukan main panjangnya. Bisa sampai 20 halaman lebih huruf huruf yang tak kupahami. Meski demikian, aku tetap ingin tahu bagaimana ia tahan membaca huruf Arab sepanjang itu tanpa tahu artinya –eh, apa iya dia tidak tahu artinya- dan tentu saja aku tanyakan.
“hmm, perintah pertama yang turun dari Allah SWT kepada Rasullullah adalah ‘Bacalah!’ karena itu walaupun belum tahu apa artinya, yang harus dilakukan adalah membacanya. Baca dan baca. Semakin kita membacanya, Insyaallah kelak kita juga akan mengerti artinya. Membaca Al Quran juga menjaga kita dari hal hal yang tidak bermoral. Karena orang yang dekat dengan Al Quran itu dibersihkan hatinya tiap ia membacanya.
“Selain itu, Zain. Ketika orang beriman membaca Al Quran, hatinya akan terasa damai. Mengetahui bahwa Allah selalu bersamanya. Menjadi tempat untuknya kembali. Bagi Mas, perasaan ketika mengetahui kita memiliki Allah untuk kembali, memohon dan berdoa, sangat mendamaikan.
“Hmm, daripada Mas ngomong panjang panjang, sekarang ini kamu yang membaca” Mas Imam menyerahkan Al Quran peraknya kepadaku. “Ingat ingat hurufnya lagi! Kalau mau tanya bisa sama aku. Sekalian kita tahsin buat kamu biar bener lagi bacaanmu,ya! Tapi sekarang Mas ada urusan sebentar mau ke sekre sebelah. Assalamualaikum!” Mas Imam pergi setelah menjabat tanganku mantap. Mataku masih mengikuti punggungnya sampai menghilang di koridor. Membuka ayat ayat suci tuhan. Merasakan getarannya. Mungkin, di sudut hatiku, bukan, di jiwaku yang masih
mengharap hidayah-Nya aku merindukan hari ini. Hatiku bergejolak, berdetak, siap meresitasi setiap huruf huruf yang pasti akan kuingat sendirinya.
Al Fathihah
Umm.. ini.. bacanya apa?
Komentar
Posting Komentar