HIJRAH Episode 1

HIJRAH
Episode 1
13:11
Sebenarnya aku tidak tahu pasti kenapa aku belum merencanakan scenario terbaik untuk pergi dari sini. Tempat yang dipenuhi orang alim. Orang orang yang, dalam artian tertentu, berada jauh diatasku, dan diarti yang lain, aku menunduk melihat mereka. Dan bukan tempat mereka untuk berada disekitarku
Atau
Bukan tempatku untuk berada diantara mereka.



Aku masih ingat, betapa gugupnya aku menekan link itu. Keringat dingin yang enggan mengalir karena takut oleh keputusan pihak universitas. Apakah aku diterima disalah satunya atau tidak sama sekali. Aku juga masih ingat jeritan yang terlontar ketika tulisan hijau muncul di layar, sayangnya, bukan jeritan yang baik.
Ya, disinalah aku sekarang. Fakultas Ekonomi UNY. Hal tergila yang pernah kulakukan demi uang. -belajar mati matian sebelum ujian dan terlempar disini untuk belajar lagi 4 tahun kedepan. Pukul 13:11, di depan gedung utama FE tempatku berdiri, Abu datang tiba tiba menyodorkan foto pendaftaran pengurus.. apa ini..
UKMF apa.. aku tidak memperhatikan. Aku langsung tolak saja.
“Entar aku lapor lo.” Ancaman singkat yang mematahkan semua argumenku. Yang ia maksud adalah melaporkan kondisiku di perantauan ini. Abu mendapat misi khusus dari orang tuaku, yaitu memastikan aku tetap berada di ‘jalan yang benar’.
Lagipula, dijogja aku hanya harus tau Jl. Colombo saja kan..
“Udah, ayo ikut aku!” Abu menggeret kain lenganku, lebih baik aku ikuti daripada bajuku robek sekarang.
Sebelum aku sadari, ternyata kita sudah masuk ke area UKM. Koridor sempit yang mungkin memuat dua orang berjejer bila salah satunya tidak kelebihan berat badan, dan kami berhenti di pintu kedua disebelah kanan koridor. Hmm. Kalau dilihat dari luar sepertinya lumayan luas. Ada
rak sepatu didepan, sepatu biru tergeletak disana hampir seperti barang loak. Kami kira ada seseorang didalam, tapi pintunya dikunci. Ada kotak surat menempel di pintu, dan isinya beberapa lembar kertas yang kami duga formulir pendaftaran.
“Aku ambil dua ya” Abu memilih dua dari sekian formulir seolah mereka terdifersivikasi. “Hmm persiapkan foto tiga kali empat dan.. kamu tau golongan darahmu, Zain?” Tanya Abu sembari membaca formulir itu. Melihat secretariat yang lain lebih menarik bagiku, beberapa orang bermain gitar dan bernyanyi nyanyi, beberapa bermain game PES, mereka terlihat bahagia, hampir, hampir seperti rekayasa.
Kesadaranku ditarik paksa oleh seseorang yang menyapa, perempuan berpakaian serba tertutup, hanya menampakan pergelangan dan wajahnya. Teduh. Cantik
“Mau daftar yah?” Tanya mbak itu
“Iya kak..” Abu yang menjawab, aku sibuk memandang.
“Oke sip! Permisi ya saya mau buka pintunya” kata mbak itu, ia mengeluarkan kunci dari saku gamisnya dan seketika membuatku berfikir. Itu sepatu siapa?
Kami menepi dari pintu membiarkan mbak ini lewat. Melihatnya saja aku paham, terlalu dekat bisa bahaya bagi siapa saja. Aku belum yakin bahaya seperti apa, tapi aku yakin mendekat bukan keputusan yang tepat.
“Sekarang mau daftar kamu?” Abu meledekku, sepertinya ia sadar apa yang aku pikirkan. Dan kami berdua pun mengiyakan bahwa mbak tadi tergolong cantik.
Memandangi formulirnya, informasi dasar, pengalaman organisasi, yang aku tidak miliki sama sekali, oh aku pernah menjadi salah satu Badan Pengurus Harian Pramuka di SMA walau hampir gak ada gunanya. Tapi yang manapun ada satu yang paling sulit untuk dijawab. Motivasi. Aku bahkan tidak yakin kenapa aku ada disini, oh, aku lupa si Abu.
Hm, lagi pula aku juga tidak akan lolos sesi wawancara. Tempat seperti ini bukan buat aku. Aku yang suka bolos pengajian waktu SMA, bahkan lupa cara membaca Al Quran sekarang. Aku yang malas sholat awal awal apalagi dipaksa paksa. Aku juga ingat kepergok ibuku minum air es di kulkas ketika puasa.
Yah, setidaknya aku bisa menunjukan Abu kalau aku sudah berusaha masuk ke organisasi ini. Nanti juga aku bisa menggagalkan diri. Hm, rencana yang bagus, Zain.
Ketika wawancara, aku sudah mempersiapkan diri menjadi orang yang tidak bisa diharapkan. Sebenarnya, aku tidak perlu berubah menjadi apapun, cukup jadi diriku sendiri bisa. Uuh, mengakuinya bikin sedih.
Pria kurus jangkung tersenyum canggung. Bisa tampak upayanya membuat semua orang di dunia merasa nyaman. Kacamatanya menggantung diatas hidung sempurna dan rambut cepak menjadikan kesan cerdas pada tiga menit pertama. Melihat berlembar lembar kertas yang terarsip seadanya didalam stopmap membuatku berpikir wawancara ini akan lebih lama dari semestinya.
“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokaatuh, dek Zain”
“Waalaikummussalaam” jawabku, suaranya meyakinkan, aku menarik kembali kecanggungannya semula.
***
Pengharum mobil mengusir pengap yang tadinya menghuni kamar kos. Luas yang semestinya memberiku ruang meregang malah menguatkan sepi yang tadinya sempat aku lupa ketika dikampus. Masih menghadap kipas angin, dengan pengharum mobil menggantung padanya, menyadari sendiri, tidak ada alasan untuk kembali ke kampus.
Aku teringat Abu, ketika berjalan di koridor kos aku sempat melihat kamarnya, terkunci rapat. Dia dimana, pikirku.
Ah. Pasti organisasi itu.
Abu sudah pasti fit in disana. Lagipula kenapa ia mengajakku sih. Lalu apa apaan mas tadi.. siapa namanya?? Imam kalau aku ingat. Dia menanyakan bagaimana cara menyikapi aku yang sedang bad mood. Huh, bisa jadi empat tahun kedepan hanya itu mood yang aku tahu.
Beep
Aku meraih ponsel dari saku jaket yang aku lempar ke ujung kasur. Layar menampilkan nomor yang belum aku simpan. Tapi, dari isinya aku langsung tau ini siapa.
Selamat untuk Zain Maliq yang diterima di UKMF KM Al Fatih 2017 di Departemen Media! Semoga dimudahkan menjaga amanah…
Ponselku tertarik gravitasi memantul di kasur. Aku mengehela nafas panjang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HIJRAH Episode 2 2:141

Kami Akan Merindukanmu